Kamis, 10 Mei 2012

Tidak Ada Kewajiban kecuali Berdasarkan Syariat dan Tidak Ada Siksa kecuali Setelah Peringatan

Allah SWT telah memberikan fitrah kepada manusia utk melihat kebaikan dalam berbagai benda dan perbuatan. Kejujuran dan keadilan kelembutan dan kebaikan keramahan dan keindahan semua itu dipandang baik oleh manusia berdasarkan fitrahnya yg telah dianugerahkan Allah kepadanya. Demikian pula dgn perkara-perkara buruk yg berkaitan dgn perbuatan dan benda-benda dipandang buruk oleh manusia. Hal ini juga diketahui oleh manusia berdasarkan fitrah. Oleh krn itu kezaliman kedustaan dan kejahatan merupakan perkara-perkara yg tercela. Ketika syariat Ilahi dikebumikan sesuai dgn apa yg terpusat pada fitrah manusia maka ia turun utk menetapkan apa-apa yg telah wujud dalam fitrah tersebut. Syariat menguatkan keburukan sesuatu yg asalnya buruk sebagaimana ia menegaskan kebaikan sesuatu yg baik bahkan memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan. Namun demikian meskipun persoalan ini muncul hanya dihadapkan pada orang-orang yg berakal ia menjadi salah satu titik perbedaan yg besar di kalangan beberapa golongan terutama golongan Mu’tazilah dan Asy’ariyah.. Persoalan ini dikenal dgn istilah “masalah baik dan buruk apakah keduanya ditentukan berdasarkan akal atau syariat ?” Baik dan Buruk dan Alasan Kewajiban Sebelum turunnya perintah dan larangan tidak ada keburukan yg akan dikenakan sangsi krn keburukan yng ada pada dirinya dan Allah SWT tidak akan memeberi balasan kecuali setelah mengutus rasul-rasu-Nya. “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” . Allah SWT berfirman “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” . Qatadah mengatakan “Perbuatan baik yg dilakukan oleh orang-orang jahiliyah bukanlah suatu kebaikan hingga Allah memerintah mereka melakukannya melalui ayat ini dan bukan pula suatu keburukan apa-apa yg dianggap tercela di kalangan mereka hingga Allah melarang mereka dan menyebutnya buruk dan Dia hanya melarang perbuatan-perbuatan yg kotor dan tercela. . Ali ra berkata “Ketika Allah memerintahkan kepada nabinya utk menghadapi kabilah-kabilah Arab beliau keluar dan menemui mereka pada suatu majelis dari kaum Syaiban bin Tsa’labah. Beliau mengajak mereka masuk Islam dan menolongnya. Salah seorang di antara mereka Mafruq bin ‘Amr bertanya ‘Wahai Saudara Quraisya ke mana engkau mengajak kami?’ Maka Rasulullah saw membacakan ayat yg artinya “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan memberi kepada kaum kerabat.” Ia berkata “Demi Allah engkau telah mengajak kami pada akhlak yg mulia. . Landasan Penentuan Perintah dan Pahala Perbuatan baik dan buruk dapat saja ditetapkan berdasarkan pertimbangan akal tetapi pahala dan siksa tidak dapat ditentukan kecuali dgn adanya syariat. Maka hal yg sebaliknya dari problematika akal adl bahwa ia tidak berhak menetapkan siksa kecuali dgn diutusnya rasul sebagaimana telah ditunjukkan oleh Alquran dan Sunnah. Jika hal ini telah ditetapkan demikian maka ditetapkan pula bahwa perintah tidak ditentukan kecuali dgn syariat. Oleh krn itu wajibnya erintah dan haramnya larangan tidak ditentukan kecuali dgn syariat dan sama sekali tidak ada intervensi akan di dalamnya. Hal itu terjadi krn pahala dan siksa masing-masing tergantung pada ketaatan menjalankan perintah dan menjauhi larangan atau sebaliknya yakni melanggar perintah dan melakukan larangan dan ini hanya terjadi berdasarkan tuntunan syariat bukan yg lain. Dengan demikian fitrah akal dan ra’yu tidak dapat menjadi landasan bagi penentuan perintah yg dapat ditegakkan di atasnya hujjah bagi makhluk kecuali wahyu dan diutusnya seorang rasul. Syekh Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan “Makhluk tidak mengetahui apa yg dicintai dan diridhai oleh Allah perintah-Nya dan larangan-Nya karamah-Nya yg dijanjikan kepada wali-wali -Nya dan siksa-Nya yg dijanjikan utk musuh-musuh-Nya. Mereka juga tidak mengetahui hak Allah dari nama-nama yg baik dan sifat-sifat-Nya yg agung yg akal tidak mampu mengetahuinya dan hal-hal yg serupa dgn itu kecuali melalui rasul-rasul-Nya yg telah diutus Allah kepada hamba-hamba-Nya.” . Di antara ayat-ayat Alquran yg menunjukkan bahwa pengetahuan tentang Allah dan sifat-sifat-Nya diperoleh melalui pendengaran dan bukan melalui akal adalah Firman Allah Ta’ala yg artinya “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Ilah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” . “Ikutilah apa yg telah diwahyukan kepadamu dari Rabbmu; tidak ada Ilah selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” . “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya ‘Bahwasannya tidak ada Ilah melainkan Aku maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” . Menurut Imam al-Lalaka’i Rahimahullah bahwa ayat yg terakhir mengandung pengertian bahwa Allah telah memberitahukan kepada nabi-Nya bahwa nabi-nabi Allah terdahulu tidak mengetahui tauhid kecuali melalui pendengaran dan wahyu. . Imam al-Lalaka’i Rahimahullah juga mengatakan Demikian pula halnya dgn kewajiban mengetahui rasul hal ini ditentukan berdasarkan pendengaran. Allah Ta’ala berfirman “Katakanlah ‘Hai manusia sesungguhnya aku adl utusan Allah kepadamu semua yaitu Allah yg mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah selain Dia yg menghidupkan dan yg mematikan maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya Nabi yg ummi yg beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.” firman-Nya “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” firman-Nya ” selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adl Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” juga firman-Nya “Dan tidaklah kamu berada di sisi yg sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa dan tidak pula kamu termasuk orang-orang yg menyaksikan. Tetapi Kami telah mengadakan beberapa generasi dan berlalulah atas mereka masa yg panjang dan tiadalah kamu tinggal bersama-sama penduduk Madyan dgn membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka tetapi Kami telah mengutus rasul-rasul. Dan tiadalah kamu berada di dekat Gunung Thur ketika Kami menyeru tetapi sebagai rahmat dari Rabbmu supaya kamu memberi peringatan kepada kaum yg sekali-kali belum datang kepada mereka pemberi peringatan sebelum kamu agar mereka ingat. Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yg mereka kerjakan ‘Ya Rabb kami mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin” dan firman-Nya “Dan mereka berkata ‘mengapa ia tidak membawa bukti kepada Kami dari Rabbnya? Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yg nyata dari apa yg tersebut di dalam kitab-kitab yg dahulu? Dan sekiranya Kami binasakan mereka dgn suatu azab sebelum Alquran itu tentulah mereka berkata ‘Ya Rabb kami mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?” . Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang Allah dan rasul-Nya diperoleh melalui pendengaran sebagaimana diberitahukan oleh Allah Azza wa jalla dan ini adl pandangan Ahlu Sunnah wal Jamaah. . Syekh Shalih bin Hamid mengatakan “Di antara beberapa persoalan yg telah ditetapkan di dalam syariah adl syarat menentukan suatu kewajiban melalui suatu perintah di antara perintah-perintah yg datang dari Allah adl pengetahuan mukallaf tentang tuntutan syari’ kepadanya utk melaksanakan perintah-Nya.” . Dengan demikian wayhu Allah dan syariatnya merupakan hujjah bagi makhluk-Nya. Allah SWT memiliki hikmah yg sempurna dalam menciptakan makhluk-Nya seraya berfirman “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” . Kemudian Allah menjelaskan bahwa Dia menciptakan mereka utk beribadah kepada-Nya dan Dia tidak membiarkan mereka sia-sia sebagaimana Dia berfirman “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja .” . Allah SWT Maha Adil di antara yg paling adil. Dia tidak mengazab hamba-hamba-Nya kecuali setelah Dia memberikan peringatan kepada mereka dgn mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya sehingga Dia tidak akan menghukum mereka sebelum Dia menegakkan hujjah-Nya di hadapan mereka. . Sumber Al-Jahl bi Masail al-I’tiqad wa Hukmuhu Abdurrzzaq bin Thahir bn Ahmad Ma’asy Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar